Di Momentum Maulid Nabi, Makom Kang Barce Ajak Umat Dewasa dalam Sikap, Akhlak dan Adab

Sumedang// Propomnews86.com// — 25 Agustus 2026,Maulid Nabi Muhammad SAW semestinya tidak berhenti pada panggung, lantunan shalawat, atau kemeriahan seremonial. Sebab, mengenang kelahiran Rasulullah berarti juga mengingat kembali pertanyaan paling sederhana: setelah Maulid, apakah akhlak kita ikut lahir kembali?

Pesan itu mengemuka dalam kegiatan keluarga besar Makom Kang Barce Pesantren Darul Akhlak Malikul A'la, yang digelar di lapangan Pesantren Darul Akhlak Malikul A'la, RT 04/RW 05, Desa Sindangsari, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang.

Dalam tausiyahnya, disampaikan bahwa Maulid Nabi bukan sekadar memperingati tanggal kelahiran seorang manusia mulia. Maulid harus menjadi momentum untuk melahirkan manusia yang lebih dewasa dalam sikap, akhlak dan adab.
Allah SWT berfirman:

«“Fa-idza qoro’ta al-Qur’aana fasta’idz billahi minasy-syaithaanir-rajiim.”»

Artinya, ketika hendak membaca Al-Qur’an, manusia diperintahkan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan.

Di sinilah pesan Maulid menjadi menarik. Sebelum membaca ayat, manusia diminta berlindung. Tetapi setelah membaca ayat, apakah perilakunya juga berubah?

Sebab, ilmu tanpa akhlak bisa menjadi sekadar suara, sementara ibadah tanpa perubahan diri berisiko menjadi rutinitas.

Kata A’udzu mengandung makna memohon perlindungan dan pertolongan. Maka, setiap lafaz yang keluar dari lisan idealnya berjalan bersama kedewasaan ilmu, kedewasaan jiwa, dan kedewasaan dalam bertindak.

Ironinya, manusia sering merasa sudah dewasa karena usia bertambah, tetapi belum tentu dewasa ketika menghadapi perbedaan.

Momentum Maulid mengajak umat untuk kembali kepada sifat Rasulullah: Shiddiq, Amanah, Fathanah dan Tabligh.

Bukan hanya disebut dalam ceramah, tetapi diwujudkan dalam kehidupan.

Jujur ketika tidak ada yang melihat.
Amanah ketika memegang kepercayaan.
Cerdas ketika menghadapi persoalan.
Dan menyampaikan kebenaran tanpa kehilangan adab.

Syariat dan hakikat pun semestinya tidak berjalan sendiri-sendiri. Keduanya harus melahirkan manusia yang semakin mengenal Allah sekaligus semakin baik terhadap sesama.

Karena itu, Maulid Nabi seyogianya menjadi momentum “kelahiran hati”.

Jangan sampai manusia sibuk memperingati kelahiran Rasulullah, tetapi justru lupa melahirkan kembali akhlak Rasulullah dalam dirinya.

Lebih ironis lagi apabila manusia merasa paling beradab karena pandai berbicara tentang agama, sementara ucapan dan perbuatannya justru melukai orang lain.

Padahal, kemuliaan manusia bukan semata-mata karena ilmu yang dimiliki, tetapi karena bagaimana ilmu itu melahirkan akhlak dan kemanfaatan.

Allah SWT mengajarkan:

«“Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin. Ihdinash-shiraathal-mustaqiim.”»

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

Ayat tersebut mengingatkan bahwa manusia membutuhkan petunjuk. Sebab, tanpa petunjuk, seseorang bisa merasa paling benar, padahal sedang tersesat oleh kesombongannya sendiri.

Maka, Maulid Nabi bukan hanya tentang mengingat siapa yang lahir, tetapi tentang mempertanyakan apa yang lahir dalam diri kita setelahnya.

Apakah kesabaran?

Apakah keikhlasan?

Apakah kepedulian?

Ataukah justru ego yang semakin besar?

Di tengah kehidupan yang semakin mudah diwarnai perdebatan, prasangka dan saling menyalahkan, pesan tentang kedewasaan akhlak menjadi semakin relevan.

Sebab Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan bagaimana manusia beribadah kepada Allah, tetapi juga bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Maulid bukan seberapa meriah acaranya, melainkan seberapa jauh nilai-nilai keteladanan Rasulullah hidup setelah acara selesai.

Dari Pesantren Darul Akhlak Malikul A'la, pesan itu kembali digaungkan:

Mari dewasa dalam sikap.
Dewasa dalam akhlak.
Dewasa dalam adab.
Sabar dalam menghadapi ujian.
Syukur dalam menerima nikmat.
Ikhlas dalam berbuat.

Sebab dunia tidak kekurangan orang yang pandai berbicara tentang kebaikan. Dunia justru sedang membutuhkan lebih banyak manusia yang mau menjadi baik.

Salam nikmat Iman dan Islam.

Satu Kata, Satu Hati.
NKRI Harga Mati.


Jurnalis I  BRC 33

Posting Komentar

0 Komentar